Orang-Orang Hebat Dalam Hidupku 2
Cerita lama ini berasal dari sesosok pribadi dengan ciri-ciri rambut ikal mengembang, dengan tulang di pergelangan tangan kanannya yang menonjol lantaran kecelakaan.
Suatu ketika si dia ini mengundang kami bertiga (aku, Luluk & almh. Indah) masuk ke dalam pastoran gereja. Dia bilang bahwa dia punya nama panggilan khusus untuk masing-masing dari kami. Tapi yang aku ingat hanya namaku. Dia memberiku nama “anulir”. Bagiku itu bukan sebuah nama yang umum.
Tapi dia kemudian menguraikan alasan di balik nama itu. Dia menilai aku sebagai sosok pribadi yang mampu meluruskan sesuatu yang salah. Aku punya kemampuan untuk mengembalikan orang kepada “jalan yang benar”. Dan aku punya talenta untuk mendampingi dan mengubah orang lain menuju hal yang lebih postif. Itulah arti anulir menurutnya. Dan itu nama panggilan khusus yang diberikan untukku, dan sejak itu dia memanggilku “An…An…Anulir” hehe… Terasa aneh pada mulanya tapi kemudian aku memandangnya sebagai sebuah penghargaan yang bernilai. Dia ternyata bisa “membaca” pribadiku, yang aku sendiri pun tidak menyadari memiliki potensi itu. Ini sebuah sanjungan.
Di lain hari ketika aku dan adikku, Ling-Ling belajar membuat roti pertama kami, tiba-tiba dia menelpon dan menanyakan apa yang sedang aku kerjakan saat itu. Spontan, dia bilang bahwa dia akan datang segera ke rumahku untuk mencoba roti buatan kami. Wah, kaget banget rasanya dan aku ungkapkan keberatanku ke dia, karena aku malu, ternyata roti yang kami buat gagal total alias bantat hahaha… tapi dia ngotot mau dolan ke rumah, dan dengan berat hati aku bilang rotinya ndak enak tapi kalo mau datang ya ok aja tapi jangan menyesal.
Aku dan adikku deg-degan menunggu kedatangannya sambil berharap dia mengurungkan niatnya. Tapi rupanya harapan kami sia-sia karena 15 menit kemudian dia datang dengan motor Hondanya.
Kalau mengenang saat-saat itu sungguh aku masih selalu ketawa. Betapa aku malu menyuguhkan roti bantat untuknya, tapi anehnya dia nampak biasa-biasa saja, kemudian memakannya sampai habis sementara aku dan adikku cuma bengong melihatnya makan dengan lahap. Setelah itu dia bilang sambil senyum, “Enak kok… siapa bilang ndak enak”. Hahaha… aku tahu dia bohong untuk menyenangkan hati kami, pikirku saat itu. Tapi dia berhasil membuat hatiku senang.
Di episode lain ketika aku dan teman-teman berkumpul untuk acara Antiokhia. Dia tertarik dengan renungan malam yang kami rencanakan dan mempunyai usulan lagu yang cocok dengan tema renungan. Kemudian dia mengajarkan lagu itu kepadaku. Lagu tanpa judul, dan dia menyanyi tanpa iringan musik. Aku mempelajari iramanya dan menulis liriknya seperti ini:
“Anakku tersayang, kau jauh di mata…
Namun engkau dekat di hati…
Kudoakan slalu,di siang dan malam…
Agar tercapai segala citamu…
Bila kau rindu padaku pandanglah bulan…
Kan kubiaskan segala cinta kasihku…
Bila kau rindu padaku pandanglah bulan…
Kan kubiaskan segala cinta kasihku…”
Lagu ini indah dan syahdu banget dan memang cocok dibawakan saat renungan malam. Lagu tanpa judul ini aku ingat hingga sekarang dan aku nyanyikan juga di acara retret mahasiswa, dengan iringan gitar suamiku.
Hari demi hari begitu menyenangkan setiap kali berjumpa dengan dia di gereja. Dia selalu tersenyum dan tertawa, dan akrab dengan teman-teman Mudika semuanya. Aku tidak merasa diistimewakan oleh dia, justru aku merasa tersanjung dengan apa yang diperbuatnya untukku. Dia memandangku sebagai teman. Suatu petang dia menelponku dan meminta kesediaanku untuk datang ke pastoran saat itu juga, penting sekali katanya. Lalu segera aku pergi ke pastoran menemui dia dan ternyata tidak ada teman lain. Dia hanya mengundang aku secara pribadi. Suasana terasa berbeda karena dia nampak tidak seperti biasanya. Dan dugaanku benar. Kami duduk berhadap-hadapan, dan dia bilang, “Aku kepingin nangis…” dan aku hanya terdiam dan menunggu dia menangis.
Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aku hanya menyaksikan dia menangis dan setelah selesai dia bilang, “Sori ya aku nangis…” Dah cuma itu lalu aku pulang dan dia merasa lega ada yang menemani menangis. Dan hingga hari sesudahnya, aku tetap tidak tahu masalah berat apa yang sedang dia hadapi, dan aku tidak punya keberanian pula untuk bertanya. Hanya satu hal yang aku ingat bahwa dia memberikan kepercayaannya untukku; aku layak dijadikan teman berbagi.
Dia adalah Bartolomeus Purwantoro. Dulu aku memanggilnya Frater Meuw. Sosok pribadi yang meletakkan fondasi penting tentang kepercayaan diri. Dia yang membantu aku mengenal dan menggali potensi diriku. Dan dia tahu caranya membuat aku tersanjung dan merasa istimewa.
Lewat tulisan ini, aku mengagumi dia; mengagumi apa yang telah dia perbuat untukku dan aku berharap bisa berbuat yang sama untuk orang lain. Dia layak menjadi contoh baik untuk semua orang.
Meski saat ini aku kehilangan kontak dengannya, aku selalu berdoa dan selalu berharap berkat Tuhan senantiasa mengalir untuknya dan keluarga.
Artikel lainnya
Comments
Leave a Reply