Orang-Orang Hebat Dalam Hidupku 1

Kurang lebih 17 tahun, aku tidak pernah bertemu dia. Dan kemudian baru bulan yang lalu, komunikasi terjalin kembali. Aku cuma pengin cerita bahwa ada begitu banyak orang yang “membentuk” diri kita hingga seperti sekarang ini. Dan beliau adalah salah satu dari sekian orang yang dulu begitu dekat dan aku segani. Dia memberi motivasi, kepercayaan dan pengharapan yang begitu besar pada ku waktu aktif sebagai Mudika Paroki Pekalongan dulu. Ada beberapa kejadian yang selalu aku ingat dan membekas hingga sekarang bersama beliau.

Ketika itu SMA, aku mengikuti Kaderisasi Mudika se-Keuskupan Purwokerto sebanyak 3x di Hening Griya. Aku merasa bangga karena termasuk terpilih untuk jadi “role model” teman-teman Mudika saat itu. Setiap kali ke Hening Griya aku selalu bersamanya. Dia sopir yang baik tapi kadang-kadang suka ngebut juga hehehe… dan dia selalu minta aku duduk di sampingnya – biar jadi kenek, katanya- dan suruh nemani dia ngobrol biar ndak ngantuk ketika nyopir. Dan kemudian di acara ini aku dipertemukan dengan Mudika hebat lainnya dari paroki lain; ada rasa ciut juga waktu itu tapi beliau ini kayaknya mantap saja dan selalu mendampingi kami.

Kemudian ada perhelatan akbar yaitu Pertemuan Raya Mudika se-Keuskupan Purwokerto (1991 kalo gak salah). Bagiku ini acara Mudika yang paling bergengsi saat itu. Dan tanpa diduga, bisa-bisanya aku terpilih secara aklamasi sebagai ketua umumnya. Ketidakyakinan akan kemampuanku langsung spontan kuungkapkan ke beliau, dan aku menolak jabatan maha penting itu. Di antara teman-teman Mudika (yang SMA seperti aku) dan KKMK (mereka yang lebih dewasa dan telah bekerja), aku merasa down dan ndak punya pengalaman sama sekali menangani perhelatan akbar semacam ini. Namun sekali lagi, beliau ini bilang, kenapa aku menolak… ini adalah mandat dan kepercayaan. Dia memotivasi aku, tapi aku tetap memutuskan untuk turun jabatan sebagai Ketua I saja.

Ketika Temu Raya itu berlangsung di SMA St. Bernardus, Pekalongan, beliau tiba-tiba mencari keberadaanku yang saat itu sedang menyapu di salah satu ruang kelas. Dia berkacak pinggang dan terheran-heran sambil berkata, “Ketua kok nyapu? Ayo, itu kamu dicari Mudika Tegal pengin kenalan dan ketemu sama yang buat booklet…” (yang bikin booklet dan pembuat kata pengantarnya, aku). Aku cuma ketawa dengar komentar dia.

Kadang-kadang aku ikut dia waktu misa dan kunjungan ke rumah umat di stasi. Kalau tidak salah, kami ke stasi Kajen waktu itu. Setelah misa kemudian dilanjutkan pemberkatan rumah. Karena kondisi sudah malam dan penerangan lampu jalan yang kurang begitu jelas, kami nyasar mencari rumah umat yang dimaksud. Mungkin ada 1 jam ndak ketemu karena saat itu belum ada fasilitas HP seperti sekarang ini. Ketika tiba di rumah tersebut ternyata umat yang berkumpul setia menunggu kami dan pemberkatan rumah dilanjut makan2 berjalan lancar. Meski seorang imam, dia tetap manusia biasa… di saat nyasar gitu, bisa nesu-nesu juga… hahaha….

Aku bersyukur menjadi salah satu saksi sisi kehidupan dia yang lain. Di saat misa maupun setelah misa berakhir, banyak umat memberi salam, memuji-muji, mengagumi dan menghormati dia, namun setelah itu dia kembali ke kehidupan nyata, yo iso nesu, yo iso muring-muring jengkel, yo iso nyelelek dan ngledekin orang lain… dan aku pernah tau itu.

Moment lain yang tidak pernah aku lupakan adalah keinginanku menjadi misdinar perempuan, yang di gereja Pekalongan tidak diijinkan. Tapi beliau ini memberikan kelonggaran untukku, asal dilakukan di stasi. Bersama temanku yang laen (Theo, Wilsa, Leksono, Martono) aku dilatih dan dipersiapkan menjadi misdinar. Wuiiih, aku seneng banget meski hanya 1x misa saja… dan berjalan lancar meski deg-degan setengah mati. Dan setelah itu, curi-curi dikit minum anggurnya hahaha…

romo wid3Beliau adalah Romo Fransiscus Widyantardi, Pr (Rm. Wid) yang berperan mempengaruhi dan membentuk hidupku. Tulisan ini adalah secangkir kekagumanku buat Romo Wid, yang saat ini memegang posisi penting di Keuskupan Purwokerto. Dan setelah sekian lama tidak ketemu, ternyata beliau tidak melupakan aku (ini tambahan surprise yang lain). Inilah gambaran romo dalam arti sebenarnya; yang ngemong, yang sederhana, yang bikin aku merasa nyaman… dan tentu umat lain pasti merasakan hal yang sama. Tuhan memberikan kepanjangan tanganNya melalui Romo Wid.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • IndianPad
  • Ma.gnolia
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Reddit
  • Socialogs
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • eKudos
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Live
  • Yahoo! Bookmarks

Artikel lainnya

Comments

4 Responses to “Orang-Orang Hebat Dalam Hidupku 1”

  1. saya on October 12th, 2009 7:45 am

    Waaaaaah, saya kemringet membaca catatan pinggir ini, Mrs Triwati ! Terima kasih di masa “tua” saya, saya diingatkan bahwa pernah berguna dalam pembentukan pribadi seseorang. Tuhan memberkati Pasutri Triwati & Bimo bersama Anak-anak. Saya bangga atas anda berdua ! Berkah Dalem !

  2. triwati on October 12th, 2009 8:11 am

    Saya yakin bukan hanya saya seorang yang mengagumi panjenengan, Mo… ribuan orang di luar sana juga pasti punya kesan yg serupa, hanya bedanya sy mengungkapkannya di blog ini sementara orang lain disimpan di dalam hati… move on, Mo… tidak ada kata”tua” dalam kamus hidupmu, melainkan kematangan sejati… GBU

  3. yustinus on October 15th, 2009 1:29 am

    Sebuah tulisan yang benar-benar dahsyat. Bagi rasa yang benar-benar tulus. Serasa saya ikut mengenal Romo Wid juga.

    Terima kasih telah berbagi momen indah ini …

  4. triwati on October 15th, 2009 12:15 pm

    makasih Pak Yustinus udah mampir ke blog saya dan memberikan comment… GBU!

Leave a Reply