From Sydney to Singapore Brings Love and Passions
Hahahahaha…… judul postingnya lebay banget, ya. Tapi memang begitulah keadaanya, kok.
Akhir Januari hingga tgl 1 Februari kemaren adalah masa-masa sibuk, capek, letoy dan agak tegang juga… yang paling kerasa adalah suamiku. Dia udah sibuk bikin iklan di Gumtree jual semua barang yang kami punya seperti sofa recliner, mesin cuci, kulkas, microwave, sepeda anak-anak, mainan, komputer, meja, kursi, massage chair, matras. Syukurlah, saat-saat terakhir semua barang bisa laku terjual hanya tersisa lemari es. Dijual murah-murahan aja, biar cepet laku buat sangu
Berhubung matras dah laku dan diambil tgl 1 Feb oleh pembelinya (orang Nepal) terpaksa satu malam kami tidur kaya orang kemah, cuma beralaskan selimut dan bantal-bantal yang sengaja tidak dijual. Anak-anak bisa tidur pulas tapi aku glebag-glebag ora iso turu… wah wis kurang tidur tenan. Bangun jam 4.30 pagi tgl 2 Feb mandi-mandi dan membuang sisa barang ke tong sampah, sementara taxi jam 5.30 udah standby untuk antar kami ke bandara.
Ok lah bye-bye Lidcombe… bye-bye Sydney… perjalanan menuju ke internasional airport, Lilo muntah di taxi sementara ndak siap plastik, yah tau dewe… berusaha tissu seadanya.
Nyampe airport, lalu check-in. Oh ya sehari sebelumnya aku udah check-in online di SQ website untuk langsung dapat boarding pass dan pilih tempat duduk. Tapi ketika check-in, boarding pass yang udah aku print gak ada gunanya, karena mereka tetep cetak boarding pass yang baru. Terus urus bagasi sekalian karena aku langsung stop over di Singapore sekalian bilang CS-nya untuk bagasi keluar di Singapore. Terus sarapan di Krispy Kreme sambil nunggu gate buka, isi formulir imigrasi dan masuk ke lounge bandara. Nunggu 1 jam aku nelpon Akiu Jing dan Ling-Ling di Philadelphia. Penerbangan yang jadwal seharusnya jam 8.05 diundur 1 jam, jadi kami brangkat jam 9.05 dan di Amerika masih jam 4 sore saat itu, jadi saat yg tepat nelpon Akiu Jing karena sejak Akiu Jing di Amerika, aku ndak pernah nelpon.
Flight on time, jam 9.05 take off beneran, duduk di kelas Ekonomi SQ. Penerbangan nyaman, makanan juga lumayanlah… hanya Pingkan yang kasian karena muntah sampe 5x, lemes, semua baju basah dan ternyata aku hanya siap celana dalam ama kaos dia aja, lupa ndak bawa celana panjang, akhire kemana-mana ditutupi jaket… ya capek, kurang tidur, telat makan, bikin anak perempuanku teler tenan. Bimo juga sakit kepala berhubung penerbangan terasa begitu lama 8 jam. Tadinya kami pikir kita bakalan nyampe Singapore jam 14.05 eh… jebul waktu Singapore, kan selisih 3 jam dengan Sydney. Wah pantat panas banget…. Sementara Lilo enjoy, sering makan, tidur, nonton movie, dan aku… ok-ok aja.
Begitu sampe Singapore, tanda salib pertama dibuat setelah keluar dari pesawat. Dan rasanya…. syukur kepada Tuhan yang tak terkira karena cita-cita membangun kehidupan baru di negara ini, dimulai HARI INI TGL 2 FEBRUARI 2010. Tahun Macan (sesuai shio-ku) membawa banyak pengharapan, sukacita, dan keoptimisan untuk bisa hidup lebih sukses daripada hari kemarin, dan di negara singa inilah kami akan tinggal dan menetap.
Selanjutnya kami istirahat di food court bandara sambil makan, karena Pingkan lemes banget ndak bisa makan selama di pesawat.
Karena udah janjian dengan Jill, pemilik flat yang kami sewa, untuk datang ke flat sekitar jam 5 maka ada waktu yang tersisa dimanfaatkan untuk nitip bagasi dulu. Ternyata ada service penitipan bagasi di airport dengan biaya sewa selama 24 jam S$4 per 10 kg. Lalu kami keluar bandara, naik MRT (train) pertama kali ke City Hall. Disana cuci mata ke mal hingga Esplanade. Perjalanan pertama belum enjoy bener ya, masih jet lag… dan akhirnya puter-puter sampe jam 7 malam beli SIM Card, tukar duit ke money changer, ambil bagasi lagi, naik taxi menuju ke flat.
Eh … ternyata si Jill udah nunggu dan kuatir kenapa kami sampai malam baru tiba, dan Herry (temenku di Singapore) juga nunggu-nunggu telponku. Wah ada rasa ndak penak juga, gak kontak dari tadi.
Selanjutnya catatan perjalanan singkat dan padat buat mengingat juga hal-hal apa aja yang kami lakukan di mingu-minggu pertama di Singapore.
Hari ke-2: berhubung jet lag masih kerasa, jam tidur pun masih kacau, dan lucunya bangun tidur dikira masih di Sydney hehehe….. kita pake kesempatan pagi-pagi jam 6 buat jalan-jalan lihat kondisi sekitar dan ke pasar terdekat. Ternyata informasi dari Jill tentang pasar ini, beneran pasar setengah tradisional tapi mereka ditata dalam satu kompleks kios. Kerasa aneh juga karena di Sydney ndak ada model pasar kaya gini, rame, agak semrawut, orang-orang kongkow…. bener-bener kami kembali ke alam budaya Asia. Di pasar ini, aku beli beras, minyak, sabun mandi, sabun cuci, kecap, teh, koran lokal, dan …. ini yang dikangeni, jajan pasar!
Memang benar bahwa Singapore tidak sebesar Australia dan Indonesia maka untuk pergi ke semua tempat di satu wilayah (suburb) bisa dilakukan dengan jalan kaki. Dan di siang hari kami jalan kaki ke Tampines Mall untuk jalan-jalan dan janjian ketemu Herry Chandra (temen SD & SMAku) yang udah 10 tahun tinggal di Singapore ini. Dipandu Herry, kami diajari membeli kartu Ez Link yang berguna untuk bepergian menggunakan public transport disini seperti MRT (kereta) dan bis. Lebih irit dan gampang di top-up (isi ulang). Karena kebetulan Herry kerja di wilayah yang sama dimana aku sementara tinggal, sore harinya kami bikin janji lagi maen ke rumah dia di Bishan. Dolan ke rumah Herry, kenalan ama Judith (istrinya) dan Daniel & Michael (anak2nya).
Hari ke-3: Bimo buka account pertama di POSB. Berhubung kami belum punya IC (Identity Card) maka syaratnya mesti mengisi beberapa form, menunjukkan surat bukti LPR, paspor dan setoran pertama S$500. Semuanya berlangsung cepat dan lancar. Acara selanjutnya kami pergi ke MOE (Ministry of Education) dalam rangka placement assistance untuk anak-anak sekolah disini. Sebelum berangkat ke Singapore ini, Bimo udah lebih dulu cari informasi tentang sekolah anak-anak hingga kontak dengan MOE lewat email. Ternyata memang ada one stop service dari MOE untuk membantu PR baru mencarikan sekolah anak-anak. FYI, sekolah udah dimulai sejak awal Januari, jadi praktis kami harus sesegera mungkin mendapatkan sekolah buat Lilo & Pingkan.
Dari pihak MOE meminta informasi sekolah2 di daerah mana yang kami mau dan mereka yang akan menghubungi semua Primary School di daerah tersebut yang masih ada lowongan untuk anak2ku. Namun prosesnya tidak secepat yang aku mau, butuh 2-3 minggu untuk mendapat konfirmasi dari mereka. Di sisi lain mereka juga menyarankan kalo kami bisa menghubungi PS terdekat.
Inilah yang jadi agenda kami di hari ke-4. Suasana Singapore yg bikin kemringet mengantar kami berpanas-panas door to door ke 2 PS di daerah Tampines ini. Dan hasilnya: nihil, tidak ada bangku kosong di semua level, dan malah mereka menyarankan aku minta bantuan MOE hehehe…. ok deh, ternyata populasi anak-anak padat juga di Spore. Berhubung jalan kaki, ngajak unyil2 ini pada capek, complain, kepanasan, yo wis … dilanjut jalan2 dan bermain ke Time Zone di Tampiness Mall.
Masih ada waktu luang, nyoba ke Raffles Place. Sekalian kami ke Raffles Medical buat medical check-up untuk melengkapi persyaratan convert ke PR status. Diperlukan 2 tes kesehatan yaitu X-Ray dan tes HIV. Tes hanya diperlukan untuk aku dan suami, anak-anak tidak perlu. Biayanya S$ 40.65 per orang dan hasil bisa diambil 5 hari lagi.
Sekarang giliran aku buka saving account pertama. Ada 3 bank lokal di Singapore ini (dari info Herry): UOB, OCBC, DBS/POSB. Aku nyoba datang ke bank lain yaitu UOB & OCBC. Hasilnya… ditolak! Uhhhh…. dgn alasan aku belum punya IC. Yachhh… mau gimana lagi, akhirnya nyoba ke DBS. DBS dengan POSB ini dulunya bank lokal yang berdiri sendiri-sendiri kemudian POSB diakuisisi atau digabung dgn DBS (kalo gak salah tangkap info-nya lho). Di DBS lah akhirnya aku buka account baru disana. Praktis juga, penarikan dana maupun deposit cash bisa dilakukan di ATM DBS ataupun POSB.
Berhubung siang hari dapat kabar dari Jarina (real estate agent) ada flat di Bedok, malamnya Bimo datang untuk viewing. Dan hasilnya: gak minat, crowded banget mesti melalui market.
Hari ke-5: Sabtu dimanfaatkan untuk leyeh2 sampe siang. Lalu memanfaatkan free shuttle bis untuk tujuan ke IKEA. Nah di IKEA kami nyoba makanan disana, liat barang2 IKEA yang selalu jadi impian pengin punya desain dgn barang2 IKEA someday.
Hari ke-6: Minggu, keluar dari flat siang hari untuk tujuan ikut misa Keluarga Katolik Indonesia di Singapura. Misa minggu pertama ini di Bukit Siglap. Naek train dulu sampe Kembangan lalu naek bis turun 2 stop tinggal nyebrang nyampe di gereja. Umat Katolik Indo yang aku lihat kemaren, gak sebanyak di Sydney.
Nah malamnya, ada pengalaman yang sangat berharga buat kami. Bimo datang lagi sendiri viewing flat di daerah Tampines. Info-nya dari real estate agent yang berbeda dari sebelumnya. Sebenarnya Bimo tertarik dengan lingkungan sekitar dan kondisi flat itu sendiri, tapi yang bikin dia marah adalah sikap real estate agent-nya yang mendesak Bimo harus segera tandatangan agreement dan bayar deposit saat itu juga. Meskipun suamiku mengelak dengan besok akan ditransfer tapi mereka mendesak harus sekarang juga, atau kalo perlu uangnya dijemput di rumah agar besok flat tersebut tidak diambil orang lain. Kecurigaan lain, masak harga sewa di agreement dan harga real berbeda $ 300, jadi pihak agent mau ambil keuntungan dari kami dari agent fee and biaya sewa bulanan, ini aneh banget. Sebelumnya juga Herry udah manti2 supaya berhati2 dengan agent real estate karena banyak yang nipu. Cara mereka yang mendesak dan menyudutkan gitu langsung bikin Bimo marah dan ambil keputusan ndak berminat dgn flat tersebut. Langsung aku kontak Herry dan Herry bilang kalo itu gak bener caranya dan Herry segera kontak temen2 Judith untuk bantu kami cari flat.
Real estate agent tersebut kirim sms dan nelp berulang2 minta maaf dan masih ngrayu untuk ambil flat tersebut.
Artikel lainnya
Comments
4 Responses to “From Sydney to Singapore Brings Love and Passions”
Leave a Reply

hi tri..seru juga ceritanya..no hp mu plis..thx
what an exciting life!
hehehe…. makane ojo dadi turis terus tho… ben kw ngrasake dadi new resident in new country
blm punya no HP, Johan… lagi numpang orang nih hehehe…