Facebook & Reuni

Gambar diatas mewakili perasaan beberapa orang yang muncul ketika bertemu dengan teman-teman lama di jejaring sosial seperti Facebook. Perasaan rindu karena sekian lama tidak berjumpa mendorong kita untuk menemukan kembali teman-teman sepermainan dulu yang sekarang entah dimana. Kita ingin tahu kabar keberadaannya, kehidupan kini, pekerjaan mereka, keluarga mereka, wajah dan penampilan mereka sekarang, dan kabar lainnya.
Ironisnya, setelah kita tahu itu semua lalu muncul bentuk perasaan negatif lain. Kita mulai membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan yang sedang kita jalani. “Wah, si A udah jadi manager perusahaan nasional… dari foto-foto si B ternyata dia sudah keliling dunia…. si C yang orang kampung udah jadi orang hebat di Jakarta dan punya mobil… si D tinggal di Amerika…. si E yang dulunya nakal sekali, sekarang jadi pengusaha hebat, beristri cantik dan selalu liburan ke luar negeri, si F udah jadi arsitek, dokter, banker, trader, bla…bla…bla…..” Banyak banget cerita kesuksesan dari teman-teman sekolah kita dulu.
“Sedangkan AKU?” lalu muncul perasaan minder. “Aku cuma kuli, yang belum mampu beli rumah sendiri, yang berpenghasilan pas-pasan, tinggal di kota kecil, bisa akses Facebook aja karena fasilitas kantor.”
Coba lihat sisi sebaliknya. “Wah si A yang dulu juara kelas, sekarang cuma jadi pegawai negeri rendahan, si B yang dulu jagoan di kelas cuma dagang batik di pasar, si C kasihan ya, belum kawin-kawin juga padahal dulu ceweknya banyak, si D yang dulu kembang sekolah kok sekarang gendut jelek begitu, si E kok nasibnya kasihan ya, masih muda udah janda, nggak kerja juga, gimana kasih makan anaknya…. si F yang dulu sekolah pinter eh… cuma ibu RT dan tinggal di rumah aja, bla…bla…bla…”
“Sedangkan AKU?” lalu muncul perasaan superior dan sombong. “Kehidupanku jelas lebih baik dari mereka, aku punya karir dan jabatan penting, rumahku mewah, bisa pergi ke luar negeri kapan saja dan aku jauh lebih sukses di banding mereka…”
Ehmmm… sedikit banyak pasti kita mengalami perasaan di atas, kan? Entah bentuk perasaan yang mana tetapi proses membandingkan, saling iri, rendah diri, egois pasti muncul. Dan perasaan-perasaan itu tidak memberikan kenyamanan pada akhirnya atau malahan super percaya diri dibanding sebelumnya. Ini saya bicara sisi negatif “reuni maya”.
Sebaliknya banyak pula sisi positif dari “reuni maya” ini. Dengan membaca update status mereka, kita tahu hari ini mereka lagi gembira, apes, jengkel, lagi punya kesibukan tertentu, punya bayi baru, sedang marah, lagi concern pada hal tertentu, dan lain-lain. Facebook memberikan fasilitas bagi kita untuk berinteraksi langsung dengan memberikan comments atau mengirimkan private message. Disinilah muncul keprihatinan bersama, memberikan penghiburan satu sama lain, menghina satu sama lain (dalam konteks becanda) dan kadang memberikan komentar yang gak ada hubungannya sama sekali dengan isi status. Semua itu sah-sah saja dan tetap menghibur. Makanya Facebook selalu dikangeni karena celoteh comments yang beraneka ragam, disamping pengin tahu kabar teman-teman setiap hari.
Dari pertemuan di dunia maya ini lalu diikuti ide untuk berjumpa secara fisik alias reuni beneran. Ide reuni ini bisa bagus dan sekaligus tidak bermanfaat menurut saya. Bagus manakala mereka yang ketemuan ini adalah teman-teman yang “mampu”, mampu secara finansial (karena biasanya makan-makan di restoran atau jalan-jalan ke tempat tertentu, sewa hotel, dsb), saling berkangen-kangenan, saling mensupport jika antar teman menemui kesulitan hidup, merenda memori indah dulu di sekolah, mengingat kembali kenakalan remaja dan tertawa bersama….
Akan menjadi tidak bermanfaat bila beberapa teman menjadi rendah diri, malu, kelihatan tua, gemuk, merasa tidak sebanding jika bertemu dengan teman-teman yang lebih segalanya dari dia, dan akhirnya memutuskan tidak ikut reuni. Menurutku, ini pasti terjadi. Inilah kenapa ide reuni besar bagi saya kurang begitu menarik. Karena aku tidak mau kehilangan kelompok teman-teman yang terakhir ini.
Artikel lainnya
Comments
Leave a Reply