<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Pinggir Eriartha &#187; Singapore</title>
	<atom:link href="http://triwatieriartha.com/category/singapore/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://triwatieriartha.com</link>
	<description>Perjalanan &#38; Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Feb 2010 14:32:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Minggu Kedua dan Ketiga di Singapore</title>
		<link>http://triwatieriartha.com/minggu-kedua-dan-ketiga-di-singapore</link>
		<comments>http://triwatieriartha.com/minggu-kedua-dan-ketiga-di-singapore#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 14:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Convert PR]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[convert PR by relocation]]></category>
		<category><![CDATA[hidup di singapore]]></category>
		<category><![CDATA[ICA Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singtel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwatieriartha.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Hari ke-7 Senin ini akhirnya aku berhasil janjian ama temen Herry namanya Nary, ERA real estate agent untuk viewing unit. Singkat kata singkat cerita, setelah viewing, rembugan ama suami, kami putuskan untuk mengkontrak unit tersebut untuk setahun. Tandatangan LOI (Letter of Intent) dan bayar deposit sebesar sewa 1 bulan. Ahhhh&#8230;. rasanya seneng banget lho, bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ke-7 Senin ini akhirnya aku berhasil janjian ama temen Herry namanya Nary, ERA real estate agent untuk viewing unit. Singkat kata singkat cerita, setelah viewing, rembugan ama suami, kami putuskan untuk mengkontrak unit tersebut untuk setahun. Tandatangan LOI (Letter of Intent) dan bayar deposit sebesar sewa 1 bulan. Ahhhh&#8230;. rasanya seneng banget lho, bisa dapat tempat secepat ini dgn harga yg reasonable pula, dan letaknya di tengah2 Singapore, dekatan ama flat-nya Herry juga.</p>
<p>Sungguh aku merasa bersyukur kepada Tuhan, semoga diberikan kelancaran hingga seterusnya. Bahkan Nary juga nantinya akan bantu aku untuk daftar account listrik, air dan gas.</p>
<p>Hari ke-8 aku datang ke interview kerja yang pertama, dan masih nunggu hasilnya apa diterima kerja disitu ato nggak. Datang ke tempat ini, aku pake acara nyasar yang pertama kali nih di Spore. Soalnya pertamanya aku pergi sendiri. Sebelum brangkat, udah nyari lokasi melalui google map. Prakteknya aku bingung nyari bus stop; nanya ke <em>Passenger Service</em> di MRT udah dikasih ancer2, lalu giliran nyampe di bus stop yg dimaksud ternyata ada 4 bus stop disitu dan yang sangat mengherankan, tak satu pun orang-orang disana yang bisa bantu aku nyari bus stop yg aku maksud, gendheng ndak tuh&#8230;. entah mereka bener2 sangat individual, memang ora mudeng dalan, apa ndak ada niat bantu orang lain, mbuh lah&#8230;. Padahal pengalamanku di Sydney, pertama kali kita cari tempat dan bawa peta, eh&#8230; tau2 orang lain datang menawarkan bantuan informasi lho, dikasih tau arah jalannya; orang Sydney lebih welcome, kayanya&#8230; entah lah, aku belum bisa menilai ya, kan masih minggu kedua tinggal disini, jadi seringkali aku masih membanding2kan antara Sydney dan Singapore.</p>
<p>Akhirnya, aku menemukan sendiri bus stop yang aku cari; ternyata masih harus menyebrang jalan dan arahnya berlawanan. Untungnya aku menyiapkan waktu 2 jam sebelumnya untuk brangkat, sekalian aku hitung waktu jika pake acara nyasar kaya gini hehehe&#8230;..</p>
<p>Terus&#8230; dalam rangka menyiapkan semua dokumen untuk melengkapi convert PR, Nary dan suaminya, Kenneth bantu kami untuk pendaftaran PUB account. PUB account yang dimaksud adalah account listrik dan air. Sebetulnya syarat untuk membuka account PUB baru ini harus menunjukkan NRIC (ktp-nya Sporean) tapi berhubung kami resident baru dan Kenneth juga ikut melobi urusan ini, akhirnya kami berhasil membuka account baru dgn menggunakan paspor, namun dikenakan deposit 2x lipat yaitu $140. Jika kami nantinya udah punya NRIC, tinggal menghubungi kantor mereka lagi (SP Services), maka separo deposit akan dikembalikan.</p>
<p>Oh ya, lupa crita. Untuk urusan convert PR Singapore ini akhirnya kami memilih cara melalui <em>relocation</em>. Syaratnya: harus menunjukkan ke pihak ICA (imigrasi) dokumen2 antara lain: tenancy agreement (untuk menyewa flat selama min. 1 tahun), deposit receipt dan advance rental, PUB account dan telephone line account. Di samping itu hasil medical report, dan mengisi beberapa form identity card dan entry permit.</p>
<p>Nah, masih ada 1 hal yang kurang yaitu pasang telpon rumah. Masih mempertimbangkan antara Starhub dan Singtel, kami coba membandingkan keduanya melalui brosur2, pendapat orang, forum dari sisi contract, keunggulan dan promosi masing2. Kurang lebihnya mereka menawarkan harga dan program yang bersaing sih, tapi akhirnya kami lebih condong memilih Starhub.</p>
<p>Berhubung liburan Imlek dan semua bisnis center tutup, terpaksa nunggu hingga tgl 16 Feb mereka mulai operasional lagi. Langkah pertama menuju ke Starhub di Tampines Mall. Mereka menanyakan tentang NRIC dan sistem mereka tidak bisa menerima pendaftaran account baru dengan paspor. Udah dibarengi argumen dan agak ngotot tetep tidak membuahkan hasil, ya wis&#8230;.</p>
<p>Dua hari sesudahnya, Nary mengingatkan soal telpon line account ini lagi untuk mencoba di Singtel dan hanya mendaftar telpon rumah saja (tidak perlu ambil program broadband hanya untuk keperluan convert PR aja). Aku pikir bener juga saran Nary, maka segera  ke Singtel di Tampines Mall dan lagi2 mereka menolak tanpa NRIC. Lalu segera sesudahnya pergi ke Somerset di Singtel pusat. Disinipun kami berhadapan dengan CS yang menolak tanpa NRIC. Akhirnya aku dan suamiku berpikir bahwa tgl 19 Feb (appointment dgn pihak ICA) nanti kami akan jelaskan ke mereka tentang kesulitan buka telphone line account ini dan berharap mereka memahami.</p>
<p>Berhubung belum ada kabar dari pihak MOE tentang sekolah anakku maka aku menelpon pihak MOE tentang progress case kami. Eh ternyata katanya mereka sudah mengirimkan surat sejak tgl 10 Feb dan memberikan surat rekomendasi primary school yang masih ada lowongan untuk anakku. Walah&#8230; ternyata progresnya lebih cepat dari yang aku duga, karena semula mereka bilang akan diproses kurang lebih 2-3 minggu. Tapi pelayanan kementrian pendidikan ini aku akui bagus banget, bener-bener personal, ramah dan aku sebagai warga baru benar2 merasa welcome (alias diuwongke, hehehe&#8230;).</p>
<p>Miskomunikasi ini terjadi karena aku belum menempati flat baru itu, sedangkan surat sudah dikirimkan ke alamat baru itu. Maka aku kontak Nary supaya dibantu untuk mengambilkan surat dari MOE ini. Tapi di hari yang sama aku putuskan untuk ke sekolah yang dimaksud dan menanyakan tentang rekomendasi MOE ini. Pihak sekolah juga welcome dan menanyakan tentang kondisi pendidikan anakku sebelumnya di Sydney. Disini kami mendapatkan masukan yang berharga, antara lain dari sisi level pendidikan. Lilo, tahun ini seharusnya naik year 3 di Sydney, namun harus melalui tes penilaian di sekolah Singapore karena mereka memiliki kurikulum dan standard yang berbeda; apakah Lilo masuk grade primary school 2 atau 3 versi Singapore. Sedangkan Pingkan berdasarkan umur 7 tahun ini memang berada di level primary 1. Namun keduanya tetap harus menjalani assesment test di sekolah tersebut. Assesment test seharusnya dilakukan jika kami bisa menunjukkan NRIC, namun suamiku bilang bahwa kami akan convert PR besok pagi tgl 19 Feb, oleh karena itu mereka merasa maklum dan melakukan assesment test saat itu juga.</p>
<p>Hal kedua tentang bahasa. Bahwa tiap pelajar di Singapore ini harus menguasai 2 bahasa yaitu Inggris dan mother tongue-nya. Mother tongue ini berdasarkan race. Berhubung race kami Chinese maka anak2 akan mendapatkan pelajaran bahasa Chinese sebagai second language-nya. Namun disini kami berterus terang ke mereka kalo kami ini sama sekali gak bisa bahasa mandarin. Hal inilah yang kemudian menjadi perhatian utama kami, terutama untuk Lilo. Karena Lilo udah di level 3 maka bahasa mandarin di level 3 udah sangat kompleks dan bagi Lilo yang no knowledge sama sekali akan sangat susah bagi dia untuk mengejar. Karena anak2 disini sudah mulai belajar mandarin sejak umur 4 tahun. Namun ternyata ada yang namanya Exemption. Kami diberikan option untuk memilih Exemption ini ke MOE agar Lilo tidak ikut pelajaran Chinese di sekolah disertai alasan. Dan Lilo akan belajar Chinese di tuition di luar sekolah. Pihak sekolah hanya mengingatkan begini, kalo kami memaksa diri mendaftarkan Lilo ikut bahasa Chinese di sekolah maka konsekuensinya Lilo harus mengikutinya hingga primary 6. Aku dan suamiku langsung ambil keputusan bahwa akan sangat berat buat Lilo untuk mengejar ketertinggalan bahasa Chinese, dan kami sama sekali gak mau kalo sambutan pertama Lilo di sekolah baru membuat dia stress gara-gara masalah ini. Dan di sisi lain, ternyata untuk primary 2 or 3, tidak ada keharusan untuk mengikuti second language di sekolah, namun keharusan buat Pingkan yang mendaftar di primary 1. Konsekuensinya Pingkan pun harus mengejar ketertinggalan ini nantinya melalui les privat di luar jam sekolah. Jika kami memutuskan Pingkan tidak mengikuti bahasa Chinese di sekolah maka diharuskan Pingkan mengambil les bahasa asing lain (Prancis, Jerman ato yg laen) di luar jam sekolah, namun reportnya harus dikirimkan ke sekolah.</p>
<p>Pengajuan exemption ini akan dikirimkan ke MOE oleh pihak sekolah. Kata mereka biasanya MOE akan menyetujui namun sifatnya case by case, jadi tidak ada garansi persetujuan. Jika MOE menyatakan tidak setuju maka Lilo harus mengikuti bahasa Chinese hingga primary 6.</p>
<p>Hari ini tgl 19 Feb, waktu yang kami tunggu2 untuk convert PR. Mengingat jadwal ICA yang sangat padat (e-appointment udah dari awal feb tapi dapat jatah antri hari ini) maka ini saat yang kami tunggu-tunggu untuk segera melegalkan status kami disini. Setelah menunggu, nomor kami dipanggil, kami maju berdua dan anak2 nunggu di kursi. Semua dokumen udah kami siapkan malam sebelumnya, hanya masalah telpon account saja yang belum lengkap. Nah, kekuranglengkapan inilah yang jadi bahan pertanyaan pihak officer, lalu kami jelaskan duduk persoalannya. Seluruh dokumen yang lain sudah diperiksa satu per satu, dicocokkan antara dokumen asli dan fotocopy. Disuruh menunggu sebentar dan kemudian kami diharuskan untuk masuk ke ruang interview.</p>
<p>Di ruang interview inilah, kami bertemu dengan officer yang lebih senior dan mendapati 2 issue penting mengapa mereka menunda untuk memproses convert PR ini. Yaitu tentang relokasi. Di tenancy agreement dan PUB account kami tercantum untuk pindah dan menempati flat baru yaitu tgl 1 Maret. Artinya detik ini kami belum menempati flat tersebut. Inilah yang menjadi perhatian pihak ICA. Bahwa jika kami mengajukan <em>convert PR by relocation</em> artinya sekarang ini kami seharusnya sudah <em>stay</em> di alamat tersebut, sementara kenyataanya kami masih menempati flat sementara di lokasi yang berbeda. Hal inilah yang membuat <em>convert PR by relocation</em> tidak sah. Tapi ndak papa, mereka bilang agar kami datang lagi tgl 2 Maret dan otomatis mereka akan tahu bahwa kami sudah bertempat tinggal di alamat tersebut.</p>
<p>Issue kedua tentang masalah telephone line account. Mereka bilang bahwa seharusnya kami menghubungi pihak Singtel di Somerset dan langsung bertemu dengan manager-nya dan menyampaikan approval letter dari ICA, semua pemegang LPR ini langsung mendapat account baru melalui Singtel di Somerset. Sebetulnya kami pun sudah melakukan hal tersebut, namun &#8230; Herry pernah mengingatkan kalo berhubungan dengan pihak ICA jangan sampe emosi entar suratnya ndak keluar (hehehe) okelah, omongan dia digugu, kita mantuk2 wae&#8230; dan berjanji ke mereka akan kita coba lagi ke Somerset.</p>
<p>Lalu baiknya, mereka bilang kita tidak perlu melalukan e-appointment lagi, tapi tgl 1 or 2 Maret langsung datang dengan membawa surat bukti dari Singtel. Ya udah, kami keluar kantor ICA dengan agak-agak gimana gitu&#8230; ndak happy, ya&#8230; tapi gimana lagi.</p>
<p>Langkah selanjutnya langsung meluncur ke Singtel di Somerset. Eh lha kok kali ini semuanya berjalan mulus lho&#8230; asem tenan ndak tuh. Ketemu dengan CS yang berbeda, kami bilang keperluan kami dan nunggu antrian lama, dan berhasil. Jika kami bisa menunjukkan NRIC, kami tidak dikenakan deposit. Karena hanya menggunakan paspor maka dikenakan deposit $200 dan akan di-refund jika nantinya kami menunjukkan NRIC. Wis, akhirnya kami udah punya nomor telepon rumah, tinggal nunggu diaktifkan minggu depan. Hehehehe&#8230;. memang dibutuhkan perjuangan dan kesabaran yang tiada habis-habisnya nih kalo urusan dokumen. Selama belum dijedok, durung nduwe KTP, dibela-belani piye carane, yo rak? hehehe&#8230;. pengalamanku manis tenan!!!!</p>
<p> </p>
<h3  class="related_post_title">Artikel lainnya</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://triwatieriartha.com/payback-pertama-kiva" title="Payback Pertama Kiva">Payback Pertama Kiva</a></li><li><a href="http://triwatieriartha.com/pil-kb-jerawat" title="Pil KB &#038; Jerawat">Pil KB &#038; Jerawat</a></li><li><a href="http://triwatieriartha.com/from-sydney-to-singapore-brings-love-and-passions" title="From Sydney to Singapore Brings Love and Passions">From Sydney to Singapore Brings Love and Passions</a></li><li><a href="http://triwatieriartha.com/halo-wajah-baru" title="Halo Wajah Baru">Halo Wajah Baru</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwatieriartha.com/minggu-kedua-dan-ketiga-di-singapore/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>From Sydney to Singapore Brings Love and Passions</title>
		<link>http://triwatieriartha.com/from-sydney-to-singapore-brings-love-and-passions</link>
		<comments>http://triwatieriartha.com/from-sydney-to-singapore-brings-love-and-passions#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 04:12:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[migrasi ke singapore]]></category>
		<category><![CDATA[minggu pertama di Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[pindah singapore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwatieriartha.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Hahahahaha&#8230;&#8230; judul postingnya lebay banget, ya.  Tapi memang begitulah keadaanya, kok.
Akhir Januari hingga tgl 1 Februari kemaren adalah masa-masa sibuk, capek, letoy dan agak tegang juga&#8230; yang paling kerasa adalah suamiku. Dia udah sibuk bikin iklan di Gumtree jual semua barang yang kami punya seperti sofa recliner, mesin cuci, kulkas, microwave, sepeda anak-anak, mainan, komputer, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hahahahaha&#8230;&#8230; judul postingnya lebay banget, ya.  Tapi memang begitulah keadaanya, kok.</p>
<p>Akhir Januari hingga tgl 1 Februari kemaren adalah masa-masa sibuk, capek, letoy dan agak tegang juga&#8230; yang paling kerasa adalah suamiku. Dia udah sibuk bikin iklan di Gumtree jual semua barang yang kami punya seperti sofa recliner, mesin cuci, kulkas, microwave, sepeda anak-anak, mainan, komputer, meja, kursi, massage chair, matras. Syukurlah, saat-saat terakhir semua barang bisa laku terjual hanya tersisa lemari es. Dijual murah-murahan aja, biar cepet laku buat sangu <img src='http://triwatieriartha.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Berhubung matras dah laku dan diambil tgl 1 Feb oleh pembelinya (orang Nepal) terpaksa satu malam kami tidur kaya orang kemah, cuma beralaskan selimut dan bantal-bantal yang sengaja tidak dijual. Anak-anak bisa tidur pulas tapi aku glebag-glebag ora iso turu&#8230; wah wis kurang tidur tenan. Bangun jam 4.30 pagi tgl 2 Feb mandi-mandi dan membuang sisa barang ke tong sampah, sementara taxi jam 5.30 udah standby untuk antar kami ke bandara.</p>
<p>Ok lah bye-bye Lidcombe&#8230; bye-bye Sydney&#8230; perjalanan menuju ke internasional airport, Lilo muntah di taxi sementara ndak siap plastik, yah tau dewe&#8230; berusaha tissu seadanya.</p>
<p>Nyampe airport, lalu check-in. Oh ya sehari sebelumnya aku udah check-in online di SQ website untuk langsung dapat boarding pass dan pilih tempat duduk. Tapi ketika check-in, boarding pass yang udah aku print gak ada gunanya, karena mereka tetep cetak boarding pass yang baru. Terus urus bagasi sekalian karena aku langsung stop over di Singapore sekalian bilang CS-nya untuk bagasi keluar di Singapore. Terus sarapan di Krispy Kreme sambil nunggu gate buka, isi formulir imigrasi dan masuk ke lounge bandara. Nunggu 1 jam aku nelpon Akiu Jing dan Ling-Ling di Philadelphia. Penerbangan yang jadwal seharusnya jam 8.05 diundur 1 jam, jadi kami brangkat jam 9.05 dan di Amerika masih jam 4 sore saat itu, jadi saat yg tepat nelpon Akiu Jing karena sejak Akiu Jing di Amerika, aku ndak pernah nelpon.</p>
<p>Flight on time, jam 9.05 take off beneran, duduk di kelas Ekonomi SQ. Penerbangan nyaman, makanan juga lumayanlah&#8230; hanya Pingkan yang kasian karena muntah sampe 5x, lemes, semua baju basah dan ternyata aku hanya siap celana dalam ama kaos dia aja, lupa ndak bawa celana panjang, akhire kemana-mana ditutupi jaket&#8230; ya capek, kurang tidur, telat makan, bikin anak perempuanku teler tenan. Bimo juga sakit kepala berhubung  penerbangan terasa begitu lama 8 jam. Tadinya kami pikir kita bakalan nyampe Singapore jam 14.05 eh&#8230; jebul waktu Singapore, kan selisih 3 jam dengan Sydney. Wah pantat panas banget&#8230;. Sementara Lilo enjoy, sering makan, tidur, nonton movie, dan aku&#8230; ok-ok aja.</p>
<p>Begitu sampe Singapore, tanda salib pertama dibuat setelah keluar dari pesawat. Dan rasanya&#8230;. syukur kepada Tuhan yang tak terkira karena cita-cita membangun kehidupan baru di negara ini, dimulai HARI INI TGL 2 FEBRUARI 2010. Tahun Macan (sesuai shio-ku) membawa banyak pengharapan, sukacita, dan keoptimisan untuk bisa hidup lebih sukses daripada hari kemarin, dan di negara singa inilah kami akan tinggal dan menetap.</p>
<p>Selanjutnya kami istirahat di food court bandara sambil makan, karena Pingkan lemes banget ndak bisa makan selama di pesawat.</p>
<p>Karena udah janjian dengan Jill, pemilik flat yang kami sewa, untuk datang ke flat sekitar jam 5 maka ada waktu yang tersisa dimanfaatkan untuk nitip bagasi dulu. Ternyata ada service penitipan bagasi di airport dengan biaya sewa selama 24 jam S$4 per 10 kg. Lalu kami keluar bandara, naik MRT (train) pertama kali ke City Hall. Disana cuci mata ke mal hingga Esplanade. Perjalanan pertama belum enjoy bener ya, masih jet lag&#8230; dan akhirnya puter-puter sampe jam 7 malam beli SIM Card, tukar duit ke money changer, ambil bagasi lagi, naik taxi menuju ke flat.</p>
<p>Eh &#8230; ternyata si Jill udah nunggu dan kuatir kenapa kami sampai malam baru tiba, dan Herry (temenku di Singapore) juga nunggu-nunggu telponku. Wah ada rasa ndak penak juga, gak kontak dari tadi.</p>
<p>Selanjutnya catatan perjalanan singkat dan padat buat mengingat juga hal-hal apa aja yang kami lakukan di mingu-minggu pertama di Singapore.</p>
<p>Hari ke-2: berhubung jet lag masih kerasa, jam tidur pun masih kacau, dan lucunya bangun tidur dikira masih di Sydney hehehe&#8230;.. kita pake kesempatan pagi-pagi jam 6 buat jalan-jalan lihat kondisi sekitar dan ke pasar terdekat. Ternyata informasi dari Jill tentang pasar ini, beneran pasar setengah tradisional tapi mereka ditata dalam satu kompleks kios. Kerasa aneh juga karena di Sydney ndak ada model pasar kaya gini, rame, agak semrawut, orang-orang kongkow&#8230;. bener-bener kami kembali ke alam budaya Asia. Di pasar ini, aku beli beras, minyak, sabun mandi, sabun cuci, kecap, teh, koran lokal, dan &#8230;. ini yang dikangeni, jajan pasar!</p>
<p>Memang benar bahwa Singapore tidak sebesar Australia dan Indonesia maka untuk pergi ke semua tempat di satu wilayah (suburb) bisa dilakukan dengan jalan kaki. Dan di siang hari kami jalan kaki ke Tampines Mall untuk jalan-jalan dan janjian ketemu Herry Chandra (temen SD &amp; SMAku) yang udah 10 tahun tinggal di Singapore ini. Dipandu Herry, kami diajari membeli kartu Ez Link yang berguna untuk bepergian menggunakan public transport disini seperti MRT (kereta) dan bis. Lebih irit dan gampang di top-up (isi ulang). Karena kebetulan Herry kerja di wilayah yang sama dimana aku sementara tinggal, sore harinya kami bikin janji lagi maen ke rumah dia di Bishan. Dolan ke rumah Herry, kenalan ama Judith (istrinya) dan Daniel &amp; Michael (anak2nya).</p>
<p>Hari ke-3: Bimo buka account pertama di POSB. Berhubung kami belum punya IC (Identity Card) maka syaratnya mesti mengisi beberapa form, menunjukkan surat bukti LPR, paspor dan setoran pertama S$500. Semuanya berlangsung cepat dan lancar. Acara selanjutnya kami pergi ke MOE (Ministry of Education) dalam rangka placement assistance untuk anak-anak sekolah disini. Sebelum berangkat ke Singapore ini, Bimo udah lebih dulu cari informasi tentang sekolah anak-anak hingga kontak dengan MOE lewat email. Ternyata memang ada one stop service dari MOE untuk membantu PR baru mencarikan sekolah anak-anak. FYI, sekolah udah dimulai sejak awal Januari, jadi praktis kami harus sesegera mungkin mendapatkan sekolah buat Lilo &amp; Pingkan.</p>
<p>Dari pihak MOE meminta informasi sekolah2 di daerah mana yang kami mau dan mereka yang akan menghubungi semua Primary School di daerah tersebut yang masih ada lowongan untuk anak2ku. Namun prosesnya tidak secepat yang aku mau, butuh 2-3 minggu untuk mendapat konfirmasi dari mereka. Di sisi lain mereka juga menyarankan kalo kami bisa menghubungi PS terdekat.</p>
<p>Inilah yang jadi agenda kami di hari ke-4. Suasana Singapore yg bikin kemringet mengantar kami berpanas-panas door to door ke 2 PS di daerah Tampines ini. Dan hasilnya: nihil, tidak ada bangku kosong di semua level, dan malah mereka menyarankan aku minta bantuan MOE hehehe&#8230;. ok deh, ternyata populasi anak-anak padat juga di Spore. Berhubung jalan kaki, ngajak unyil2 ini pada capek, complain, kepanasan, yo wis &#8230; dilanjut jalan2 dan bermain ke Time Zone di Tampiness Mall.</p>
<p>Masih ada waktu luang, nyoba ke Raffles Place. Sekalian kami ke Raffles Medical buat medical check-up untuk melengkapi persyaratan convert ke PR status. Diperlukan 2 tes kesehatan yaitu X-Ray dan tes HIV. Tes hanya diperlukan untuk aku dan suami, anak-anak tidak perlu. Biayanya S$ 40.65 per orang dan hasil bisa diambil 5 hari lagi.</p>
<p>Sekarang giliran aku buka saving account pertama. Ada 3 bank lokal di Singapore ini (dari info Herry): UOB, OCBC, DBS/POSB. Aku nyoba datang ke bank lain yaitu UOB &amp; OCBC. Hasilnya&#8230; ditolak! Uhhhh&#8230;. dgn alasan aku belum punya IC. Yachhh&#8230; mau gimana lagi, akhirnya nyoba ke DBS. DBS dengan POSB ini dulunya bank lokal yang berdiri sendiri-sendiri kemudian POSB diakuisisi atau digabung dgn DBS (kalo gak salah tangkap info-nya lho). Di DBS lah akhirnya aku buka account baru disana. Praktis juga, penarikan dana maupun deposit cash bisa dilakukan di ATM DBS ataupun POSB.</p>
<p>Berhubung siang hari dapat kabar dari Jarina (real estate agent) ada flat di Bedok, malamnya Bimo datang untuk viewing. Dan hasilnya: gak minat, crowded banget mesti melalui market.</p>
<p>Hari ke-5: Sabtu dimanfaatkan untuk leyeh2 sampe siang. Lalu memanfaatkan free shuttle bis untuk tujuan ke IKEA. Nah di IKEA kami nyoba makanan disana, liat barang2 IKEA yang selalu jadi impian pengin punya desain dgn barang2 IKEA someday.</p>
<p>Hari ke-6: Minggu, keluar dari flat siang hari untuk tujuan ikut misa Keluarga Katolik Indonesia di Singapura. Misa minggu pertama ini di Bukit Siglap. Naek train dulu sampe Kembangan lalu naek bis turun 2 stop tinggal nyebrang nyampe di gereja. Umat Katolik Indo yang aku lihat kemaren, gak sebanyak di Sydney.</p>
<p>Nah malamnya, ada pengalaman yang sangat berharga buat kami. Bimo datang lagi sendiri viewing flat di daerah Tampines. Info-nya dari real estate agent yang berbeda dari sebelumnya. Sebenarnya Bimo tertarik dengan lingkungan sekitar dan kondisi flat itu sendiri, tapi yang bikin dia marah adalah sikap real estate agent-nya yang mendesak Bimo harus segera tandatangan agreement dan bayar deposit saat itu juga. Meskipun suamiku mengelak dengan besok akan ditransfer tapi mereka mendesak harus sekarang juga, atau kalo perlu uangnya dijemput di rumah agar besok flat tersebut tidak diambil orang lain. Kecurigaan lain, masak harga sewa di agreement dan harga real berbeda $ 300, jadi pihak agent mau ambil keuntungan dari kami dari agent fee and biaya sewa bulanan, ini aneh banget. Sebelumnya juga Herry udah manti2 supaya berhati2 dengan agent real estate karena banyak yang nipu. Cara mereka yang mendesak dan menyudutkan gitu langsung bikin Bimo marah dan ambil keputusan ndak berminat dgn flat tersebut. Langsung aku kontak Herry dan Herry bilang kalo itu gak bener caranya dan Herry segera kontak temen2 Judith untuk bantu kami cari flat.</p>
<p>Real estate agent tersebut kirim sms dan nelp berulang2 minta maaf dan masih ngrayu untuk ambil flat tersebut.</p>
<p> </p>
<h3  class="related_post_title">Artikel lainnya</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://triwatieriartha.com/pingkan-ultah-ke-6" title="Pingkan Ultah ke-6">Pingkan Ultah ke-6</a></li><li><a href="http://triwatieriartha.com/berkat-tuhan-yang-lebih-besar" title="Berkat Tuhan Yang Lebih Besar">Berkat Tuhan Yang Lebih Besar</a></li><li><a href="http://triwatieriartha.com/jason-marz-live" title="Jason Marz (Live)">Jason Marz (Live)</a></li><li><a href="http://triwatieriartha.com/langkanya-field-partner-indonesia" title="Langkanya Field Partner Indonesia">Langkanya Field Partner Indonesia</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwatieriartha.com/from-sydney-to-singapore-brings-love-and-passions/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
