Minggu Kedua dan Ketiga di Singapore

Hari ke-7 Senin ini akhirnya aku berhasil janjian ama temen Herry namanya Nary, ERA real estate agent untuk viewing unit. Singkat kata singkat cerita, setelah viewing, rembugan ama suami, kami putuskan untuk mengkontrak unit tersebut untuk setahun. Tandatangan LOI (Letter of Intent) dan bayar deposit sebesar sewa 1 bulan. Ahhhh…. rasanya seneng banget lho, bisa dapat tempat secepat ini dgn harga yg reasonable pula, dan letaknya di tengah2 Singapore, dekatan ama flat-nya Herry juga.

Sungguh aku merasa bersyukur kepada Tuhan, semoga diberikan kelancaran hingga seterusnya. Bahkan Nary juga nantinya akan bantu aku untuk daftar account listrik, air dan gas.

Hari ke-8 aku datang ke interview kerja yang pertama, dan masih nunggu hasilnya apa diterima kerja disitu ato nggak. Datang ke tempat ini, aku pake acara nyasar yang pertama kali nih di Spore. Soalnya pertamanya aku pergi sendiri. Sebelum brangkat, udah nyari lokasi melalui google map. Prakteknya aku bingung nyari bus stop; nanya ke Passenger Service di MRT udah dikasih ancer2, lalu giliran nyampe di bus stop yg dimaksud ternyata ada 4 bus stop disitu dan yang sangat mengherankan, tak satu pun orang-orang disana yang bisa bantu aku nyari bus stop yg aku maksud, gendheng ndak tuh…. entah mereka bener2 sangat individual, memang ora mudeng dalan, apa ndak ada niat bantu orang lain, mbuh lah…. Padahal pengalamanku di Sydney, pertama kali kita cari tempat dan bawa peta, eh… tau2 orang lain datang menawarkan bantuan informasi lho, dikasih tau arah jalannya; orang Sydney lebih welcome, kayanya… entah lah, aku belum bisa menilai ya, kan masih minggu kedua tinggal disini, jadi seringkali aku masih membanding2kan antara Sydney dan Singapore.

Akhirnya, aku menemukan sendiri bus stop yang aku cari; ternyata masih harus menyebrang jalan dan arahnya berlawanan. Untungnya aku menyiapkan waktu 2 jam sebelumnya untuk brangkat, sekalian aku hitung waktu jika pake acara nyasar kaya gini hehehe…..

Terus… dalam rangka menyiapkan semua dokumen untuk melengkapi convert PR, Nary dan suaminya, Kenneth bantu kami untuk pendaftaran PUB account. PUB account yang dimaksud adalah account listrik dan air. Sebetulnya syarat untuk membuka account PUB baru ini harus menunjukkan NRIC (ktp-nya Sporean) tapi berhubung kami resident baru dan Kenneth juga ikut melobi urusan ini, akhirnya kami berhasil membuka account baru dgn menggunakan paspor, namun dikenakan deposit 2x lipat yaitu $140. Jika kami nantinya udah punya NRIC, tinggal menghubungi kantor mereka lagi (SP Services), maka separo deposit akan dikembalikan.

Oh ya, lupa crita. Untuk urusan convert PR Singapore ini akhirnya kami memilih cara melalui relocation. Syaratnya: harus menunjukkan ke pihak ICA (imigrasi) dokumen2 antara lain: tenancy agreement (untuk menyewa flat selama min. 1 tahun), deposit receipt dan advance rental, PUB account dan telephone line account. Di samping itu hasil medical report, dan mengisi beberapa form identity card dan entry permit.

Nah, masih ada 1 hal yang kurang yaitu pasang telpon rumah. Masih mempertimbangkan antara Starhub dan Singtel, kami coba membandingkan keduanya melalui brosur2, pendapat orang, forum dari sisi contract, keunggulan dan promosi masing2. Kurang lebihnya mereka menawarkan harga dan program yang bersaing sih, tapi akhirnya kami lebih condong memilih Starhub.

Berhubung liburan Imlek dan semua bisnis center tutup, terpaksa nunggu hingga tgl 16 Feb mereka mulai operasional lagi. Langkah pertama menuju ke Starhub di Tampines Mall. Mereka menanyakan tentang NRIC dan sistem mereka tidak bisa menerima pendaftaran account baru dengan paspor. Udah dibarengi argumen dan agak ngotot tetep tidak membuahkan hasil, ya wis….

Dua hari sesudahnya, Nary mengingatkan soal telpon line account ini lagi untuk mencoba di Singtel dan hanya mendaftar telpon rumah saja (tidak perlu ambil program broadband hanya untuk keperluan convert PR aja). Aku pikir bener juga saran Nary, maka segera  ke Singtel di Tampines Mall dan lagi2 mereka menolak tanpa NRIC. Lalu segera sesudahnya pergi ke Somerset di Singtel pusat. Disinipun kami berhadapan dengan CS yang menolak tanpa NRIC. Akhirnya aku dan suamiku berpikir bahwa tgl 19 Feb (appointment dgn pihak ICA) nanti kami akan jelaskan ke mereka tentang kesulitan buka telphone line account ini dan berharap mereka memahami.

Berhubung belum ada kabar dari pihak MOE tentang sekolah anakku maka aku menelpon pihak MOE tentang progress case kami. Eh ternyata katanya mereka sudah mengirimkan surat sejak tgl 10 Feb dan memberikan surat rekomendasi primary school yang masih ada lowongan untuk anakku. Walah… ternyata progresnya lebih cepat dari yang aku duga, karena semula mereka bilang akan diproses kurang lebih 2-3 minggu. Tapi pelayanan kementrian pendidikan ini aku akui bagus banget, bener-bener personal, ramah dan aku sebagai warga baru benar2 merasa welcome (alias diuwongke, hehehe…).

Miskomunikasi ini terjadi karena aku belum menempati flat baru itu, sedangkan surat sudah dikirimkan ke alamat baru itu. Maka aku kontak Nary supaya dibantu untuk mengambilkan surat dari MOE ini. Tapi di hari yang sama aku putuskan untuk ke sekolah yang dimaksud dan menanyakan tentang rekomendasi MOE ini. Pihak sekolah juga welcome dan menanyakan tentang kondisi pendidikan anakku sebelumnya di Sydney. Disini kami mendapatkan masukan yang berharga, antara lain dari sisi level pendidikan. Lilo, tahun ini seharusnya naik year 3 di Sydney, namun harus melalui tes penilaian di sekolah Singapore karena mereka memiliki kurikulum dan standard yang berbeda; apakah Lilo masuk grade primary school 2 atau 3 versi Singapore. Sedangkan Pingkan berdasarkan umur 7 tahun ini memang berada di level primary 1. Namun keduanya tetap harus menjalani assesment test di sekolah tersebut. Assesment test seharusnya dilakukan jika kami bisa menunjukkan NRIC, namun suamiku bilang bahwa kami akan convert PR besok pagi tgl 19 Feb, oleh karena itu mereka merasa maklum dan melakukan assesment test saat itu juga.

Hal kedua tentang bahasa. Bahwa tiap pelajar di Singapore ini harus menguasai 2 bahasa yaitu Inggris dan mother tongue-nya. Mother tongue ini berdasarkan race. Berhubung race kami Chinese maka anak2 akan mendapatkan pelajaran bahasa Chinese sebagai second language-nya. Namun disini kami berterus terang ke mereka kalo kami ini sama sekali gak bisa bahasa mandarin. Hal inilah yang kemudian menjadi perhatian utama kami, terutama untuk Lilo. Karena Lilo udah di level 3 maka bahasa mandarin di level 3 udah sangat kompleks dan bagi Lilo yang no knowledge sama sekali akan sangat susah bagi dia untuk mengejar. Karena anak2 disini sudah mulai belajar mandarin sejak umur 4 tahun. Namun ternyata ada yang namanya Exemption. Kami diberikan option untuk memilih Exemption ini ke MOE agar Lilo tidak ikut pelajaran Chinese di sekolah disertai alasan. Dan Lilo akan belajar Chinese di tuition di luar sekolah. Pihak sekolah hanya mengingatkan begini, kalo kami memaksa diri mendaftarkan Lilo ikut bahasa Chinese di sekolah maka konsekuensinya Lilo harus mengikutinya hingga primary 6. Aku dan suamiku langsung ambil keputusan bahwa akan sangat berat buat Lilo untuk mengejar ketertinggalan bahasa Chinese, dan kami sama sekali gak mau kalo sambutan pertama Lilo di sekolah baru membuat dia stress gara-gara masalah ini. Dan di sisi lain, ternyata untuk primary 2 or 3, tidak ada keharusan untuk mengikuti second language di sekolah, namun keharusan buat Pingkan yang mendaftar di primary 1. Konsekuensinya Pingkan pun harus mengejar ketertinggalan ini nantinya melalui les privat di luar jam sekolah. Jika kami memutuskan Pingkan tidak mengikuti bahasa Chinese di sekolah maka diharuskan Pingkan mengambil les bahasa asing lain (Prancis, Jerman ato yg laen) di luar jam sekolah, namun reportnya harus dikirimkan ke sekolah.

Pengajuan exemption ini akan dikirimkan ke MOE oleh pihak sekolah. Kata mereka biasanya MOE akan menyetujui namun sifatnya case by case, jadi tidak ada garansi persetujuan. Jika MOE menyatakan tidak setuju maka Lilo harus mengikuti bahasa Chinese hingga primary 6.

Hari ini tgl 19 Feb, waktu yang kami tunggu2 untuk convert PR. Mengingat jadwal ICA yang sangat padat (e-appointment udah dari awal feb tapi dapat jatah antri hari ini) maka ini saat yang kami tunggu-tunggu untuk segera melegalkan status kami disini. Setelah menunggu, nomor kami dipanggil, kami maju berdua dan anak2 nunggu di kursi. Semua dokumen udah kami siapkan malam sebelumnya, hanya masalah telpon account saja yang belum lengkap. Nah, kekuranglengkapan inilah yang jadi bahan pertanyaan pihak officer, lalu kami jelaskan duduk persoalannya. Seluruh dokumen yang lain sudah diperiksa satu per satu, dicocokkan antara dokumen asli dan fotocopy. Disuruh menunggu sebentar dan kemudian kami diharuskan untuk masuk ke ruang interview.

Di ruang interview inilah, kami bertemu dengan officer yang lebih senior dan mendapati 2 issue penting mengapa mereka menunda untuk memproses convert PR ini. Yaitu tentang relokasi. Di tenancy agreement dan PUB account kami tercantum untuk pindah dan menempati flat baru yaitu tgl 1 Maret. Artinya detik ini kami belum menempati flat tersebut. Inilah yang menjadi perhatian pihak ICA. Bahwa jika kami mengajukan convert PR by relocation artinya sekarang ini kami seharusnya sudah stay di alamat tersebut, sementara kenyataanya kami masih menempati flat sementara di lokasi yang berbeda. Hal inilah yang membuat convert PR by relocation tidak sah. Tapi ndak papa, mereka bilang agar kami datang lagi tgl 2 Maret dan otomatis mereka akan tahu bahwa kami sudah bertempat tinggal di alamat tersebut.

Issue kedua tentang masalah telephone line account. Mereka bilang bahwa seharusnya kami menghubungi pihak Singtel di Somerset dan langsung bertemu dengan manager-nya dan menyampaikan approval letter dari ICA, semua pemegang LPR ini langsung mendapat account baru melalui Singtel di Somerset. Sebetulnya kami pun sudah melakukan hal tersebut, namun … Herry pernah mengingatkan kalo berhubungan dengan pihak ICA jangan sampe emosi entar suratnya ndak keluar (hehehe) okelah, omongan dia digugu, kita mantuk2 wae… dan berjanji ke mereka akan kita coba lagi ke Somerset.

Lalu baiknya, mereka bilang kita tidak perlu melalukan e-appointment lagi, tapi tgl 1 or 2 Maret langsung datang dengan membawa surat bukti dari Singtel. Ya udah, kami keluar kantor ICA dengan agak-agak gimana gitu… ndak happy, ya… tapi gimana lagi.

Langkah selanjutnya langsung meluncur ke Singtel di Somerset. Eh lha kok kali ini semuanya berjalan mulus lho… asem tenan ndak tuh. Ketemu dengan CS yang berbeda, kami bilang keperluan kami dan nunggu antrian lama, dan berhasil. Jika kami bisa menunjukkan NRIC, kami tidak dikenakan deposit. Karena hanya menggunakan paspor maka dikenakan deposit $200 dan akan di-refund jika nantinya kami menunjukkan NRIC. Wis, akhirnya kami udah punya nomor telepon rumah, tinggal nunggu diaktifkan minggu depan. Hehehehe…. memang dibutuhkan perjuangan dan kesabaran yang tiada habis-habisnya nih kalo urusan dokumen. Selama belum dijedok, durung nduwe KTP, dibela-belani piye carane, yo rak? hehehe…. pengalamanku manis tenan!!!!